BerandaLintas DaerahKWT Manggis Sari, Srikandi Pangan Mundeh Kangin
Lintas Daerah

KWT Manggis Sari, Srikandi Pangan Mundeh Kangin

Di balik perbukitan Desa Mundeh Kangin, sekelompok ibu rumah tangga memilih menanam harapan di pekarangan rumah mereka. Mereka adalah KWT Manggis Sari, srikandi pangan yang perlahan menguatkan ketahanan keluarga dari desa pelosok Tabanan.

FacebookWhatsAppXTelegram

KWT Manggis Sari, Srikandi Pangan Mundeh Kangin

Pagi belum terlalu tinggi ketika Ni Made Resmini dan para ibu di Desa Mundeh Kangin mulai memetik sawi dan cabai di pekarangan rumah mereka. Jauh dari hiruk pikuk kota, di desa dengan medan menantang di Selemadeg Barat, para perempuan ini menanam lebih dari sekadar sayuran. Dari halaman rumah yang sederhana, mereka menumbuhkan harapan, menguatkan gizi keluarga, dan membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari langkah paling dekat, depan pintu dapur sendiri.

KWT Manggis Sari berdiri pada tahun 2022 dan diketuai oleh Ni Made Resmini. Saat ini, kelompok tersebut beranggotakan 25 orang ibu rumah tangga yang aktif mengembangkan pertanian berbasis pekarangan. Melalui program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B), mereka membuktikan bahwa ketahanan pangan keluarga dapat dimulai dari halaman rumah sendiri.

Untuk mencapai Desa Mundeh Kangin, diperlukan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Selemadeg Barat, dengan jarak kurang lebih 40 kilometer. Namun, jauhnya akses itu seolah terbayar lunas dengan antusiasme dan kedisiplinan anggota KWT saat mengikuti setiap kegiatan pendampingan.

“Akses jalan memang cukup jauh, tetapi semangat ibu-ibu di sini membuat rasa lelah hilang. Kedisiplinan dan keaktifan mereka dalam menerapkan teknik budidaya membuat kami terus termotivasi untuk mendampingi. Komunikasi dua arah dan kemauan mencoba hal baru menjadikan setiap sesi penyuluhan selalu hidup dan produktif,” ungkap Ayu Rahmawatiningsih, SP penyuluh pertanian BPP Selemadeg Barat Kabupaten TabananTabanan.

Melalui program P2B, anggota KWT diarahkan memanfaatkan lahan kosong dan pekarangan rumah menjadi kebun produktif. Beragam komoditas ditanam, mulai dari sayuran hijau seperti sawi dan kangkung, buncis, kacang panjang, cabai, tomat, jagung manis, hingga pisang. Hasilnya, kini pekarangan rumah anggota tampak hijau dan mulai memasuki masa panen.

Pemanfaatan hasil panen pun difokuskan pada tiga hal utama. Pertama, pemenuhan gizi keluarga, di mana sayur-mayur dan cabai langsung digunakan untuk kebutuhan dapur sehari-hari. Kedua, penghematan pengeluaran rumah tangga, karena kebutuhan sayur tidak lagi bergantung pada pasar yang jaraknya cukup jauh. Ketiga, penguatan ketahanan pangan mandiri, terutama saat harga bahan pangan di pasaran mengalami kenaikan.

“Melihat ibu-ibu memanen sawi atau cabai di depan rumahnya sendiri memberikan kepuasan batin tersendiri. Jarak jauh menuju Mundeh Kangin terasa hilang saat melihat pekarangan mereka hijau dan produktif,” tambahnya.

KWT Manggis Sari bukan kali pertama menerima dukungan program pemerintah. Pada tahun 2023, kelompok ini telah lebih dulu mendapatkan bantuan melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L), berupa rumah bibit dan berbagai jenis benih. Bantuan tersebut terus berkembang hingga saat ini, termasuk pengembangan komoditas jahe gajah yang menjadi salah satu unggulan kelompok.

Pada tahun 2025, KWT Manggis Sari kembali terpilih sebagai salah satu dari tiga KWT di kabupaten tabanan yang menerima program P2B. Melalui program ini, kelompok memperoleh bantuan berupa bibit cabai dan pisang, benih sayuran, serta sarana pendukung seperti hand sprayer.

Dengan semangat kebersamaan dan kemauan untuk terus belajar, KWT Manggis Sari membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk mandiri pangan. Dari pekarangan rumah di pelosok Mundeh Kangin, ketahanan pangan keluarga perlahan tumbuh dan menguat.

Koresponden : Ayu Rahma DPD Perhiptani Tabanan

Editor : Widianta

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar