Sentuhan Penyuluh Menjaga Asa Petani Muda di Kayuputih
BULELENG – Regenerasi petani menjadi pekerjaan rumah besar bagi sektor pertanian. Di tengah semakin sempitnya lahan dan derasnya arus anak muda yang beralih ke sektor pariwisata, masih ada sosok yang setia menjaga denyut kehidupan di sawah. Salah satunya Komang Agus Mahardika, petani muda asal Desa Kayuputih, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Pria kelahiran 1989 itu telah akrab dengan dunia pertanian sejak duduk di bangku SMA. Kecintaannya pada sawah membuatnya bertahan sampai sekarang, meski lahan yang dikelolanya bukan milik sendiri.
Agus menggarap sekitar 60 are lahan di Subak Kayu Putih. Di atas lahan tersebut, ia membudidayakan padi, jagung, kacang hijau, dan komak dengan pola tanam padi–palawija I–palawija II atau bera.
Baginya, sawah bukan sekadar sumber penghasilan. Lebih dari itu, lahan garapan tersebut menjadi penopang ketahanan pangan keluarga sekaligus warisan yang ingin terus dipertahankan.
Menariknya, Agus tidak sepenuhnya menggantungkan hidup dari hasil panen. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, ia juga bekerja sebagai koki di sebuah vila yang lokasinya tak jauh dari areal persawahan yang digarapnya.
Kedekatan antara tempat kerja dan sawah membuatnya mampu membagi waktu. Sebelum berangkat maupun sepulang bekerja, ia selalu menyempatkan diri memeriksa kondisi tanaman.
"Pertanian tetap menjadi bagian penting dalam hidup saya. Hasil sawah terutama untuk kebutuhan pangan keluarga. Kalau ada lebih, baru dijual," ujarnya.
Prinsip sederhana itu membuat keluarganya memiliki cadangan pangan sepanjang tahun. Selain bercocok tanam, Agus juga memelihara sekitar 40 ekor ayam kampung sebagai sumber pendapatan tambahan.
Perpaduan usaha tanaman pangan, peternakan, dan pekerjaan di sektor pariwisata menjadi strategi yang dijalankannya untuk menjaga kestabilan ekonomi keluarga.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Kayuputih, I Dewa Nyoman Darmayasa, SP., MP., menilai keberadaan generasi muda seperti Agus merupakan modal penting bagi keberlanjutan sektor pertanian di pedesaan.
Menurutnya, Agus termasuk petani muda yang aktif dan memiliki semangat belajar tinggi. Meski berstatus sebagai penggarap dan memiliki pekerjaan di sektor pariwisata, ia tetap konsisten mengelola usaha taninya.
"Agus merupakan salah satu petani muda yang aktif dan memiliki semangat belajar tinggi. Walaupun berstatus sebagai penggarap lahan dan memiliki pekerjaan lain di sektor pariwisata, ia tetap konsisten mengelola usaha taninya dengan baik. Ini menjadi contoh positif bagi generasi muda lainnya bahwa sektor pertanian masih memiliki prospek untuk dikembangkan," ungkapnya.
Darmayasa menjelaskan, pendampingan dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari penyusunan rencana tanam, pemilihan varietas, pengolahan lahan, pemupukan berimbang, hingga pengamatan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan penanganan pascapanen.
"Kami terus melakukan pendampingan di lapangan, mulai dari budidaya tanaman, pengamatan organisme pengganggu tanaman, pengendalian hama dan penyakit, hingga menjelang panen. Selain itu, kami juga memberikan arahan terkait penanganan pascapanen agar kualitas hasil tetap terjaga dan kehilangan hasil dapat ditekan," jelasnya.
Ia menambahkan, regenerasi petani tidak cukup hanya dengan mengajak anak muda turun ke sawah. Upaya tersebut harus dibarengi dengan pembinaan berkelanjutan serta dukungan akses teknologi dan kelembagaan.
"Kami berharap semakin banyak petani muda seperti Agus yang mampu menjadi contoh bahwa bertani tidak hanya menjaga ketahanan pangan keluarga, tetapi juga memastikan keberlangsungan pertanian bagi generasi mendatang," katanya.
Di tengah tantangan perubahan iklim, tingginya biaya produksi, serta semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian, kisah Komang Agus Mahardika menjadi potret ketangguhan petani masa kini.
Keterbatasan kepemilikan lahan tidak membuatnya menjauh dari sawah. Di sela kesibukannya sebagai koki vila, ia tetap menyisihkan waktu untuk menanam, merawat, dan memanen hasil usahataninya.

Pilihan hidup itu mungkin tidak banyak diminati oleh generasinya. Namun, dari hamparan sawah Subak Kayu Putih, Agus tengah menanam sesuatu yang lebih besar dari sekadar padi. Ia sedang memelihara harapan agar sektor pertanian tetap memiliki penerus di masa depan.
Sebab, sawah itu mungkin bukan miliknya. Tetapi semangat untuk merawat dan mempertahankan pertanian adalah miliknya seutuhnya. (JikWid/DND)

Komentar